<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Air Mata Kami Belum Kering oleh Mutiara Andalas</title>
	<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/</link>
	<description>peace for all, damai bagi semua</description>
	<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 12:54:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: christian andi</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-1849</link>
		<dc:creator>christian andi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 06:29:29 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-1849</guid>
		<description>Ini merupakan suatu langkah nyata yg luar biasa, saya pribadi sangat mendukung hal ini. Negara kita perlu perubahan dr sisi nilai kemanusiaan, kebenaran, &#38; keadilan, jgn semua dilihat dr sisi politik &#38; kepentingan pihak2 tertentu saja. Saya berharap ada ketegasan dlm hukum pidana/perdata di Indonesia terutama hukum perlindungan u/ wanita &#38; anak2. GBU.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan suatu langkah nyata yg luar biasa, saya pribadi sangat mendukung hal ini. Negara kita perlu perubahan dr sisi nilai kemanusiaan, kebenaran, &amp; keadilan, jgn semua dilihat dr sisi politik &amp; kepentingan pihak2 tertentu saja. Saya berharap ada ketegasan dlm hukum pidana/perdata di Indonesia terutama hukum perlindungan u/ wanita &amp; anak2. GBU.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sean</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-1199</link>
		<dc:creator>sean</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 04:57:45 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-1199</guid>
		<description>tolong dong giving kan ke nias ku bantuan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tolong dong giving kan ke nias ku bantuan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mutiara Andalas</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-69</link>
		<dc:creator>Mutiara Andalas</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 03:21:08 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-69</guid>
		<description>terima kasih stephanie atas dukungan kemanusiaannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih stephanie atas dukungan kemanusiaannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: stephanie</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-67</link>
		<dc:creator>stephanie</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 08:29:24 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-67</guid>
		<description>Tuhan lihat...Tuhan tahu...Tuhan mengerti...Tuhan tidak akan lupa...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan lihat&#8230;Tuhan tahu&#8230;Tuhan mengerti&#8230;Tuhan tidak akan lupa&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mutiara Andalas</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-53</link>
		<dc:creator>Mutiara Andalas</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 14:56:36 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-53</guid>
		<description>Dear Inge,
terima kasih atas tanggapanmu yang menunjukkan komitmen untuk Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi. Saya mengambil judul itu sebagai tanggapan atas seminar pusat studi cina UI tanggal 3 Mei 2008 bertema "Setelah Air Mata Kami Kering." Saya teringat salah satu kisah dalam buku saya "Kesucian Politik: Agama dan Politik di tengah Krisis Kemanusiaan" (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008). Quote: "Tragedi kemanusiaan itu sudah hampir berlangsung 10 tahun, namun bagi kami ia seperti baru berlangsung kemarin." Air mata itu masih basah, karena perjuangan mereka masih jauh dari kata usai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Inge,<br />
terima kasih atas tanggapanmu yang menunjukkan komitmen untuk Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi. Saya mengambil judul itu sebagai tanggapan atas seminar pusat studi cina UI tanggal 3 Mei 2008 bertema &#8220;Setelah Air Mata Kami Kering.&#8221; Saya teringat salah satu kisah dalam buku saya &#8220;Kesucian Politik: Agama dan Politik di tengah Krisis Kemanusiaan&#8221; (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008). Quote: &#8220;Tragedi kemanusiaan itu sudah hampir berlangsung 10 tahun, namun bagi kami ia seperti baru berlangsung kemarin.&#8221; Air mata itu masih basah, karena perjuangan mereka masih jauh dari kata usai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Inge Santoso</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-51</link>
		<dc:creator>Inge Santoso</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 10:39:23 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-51</guid>
		<description>As an Indonesian Chinese woman, I often ask myself whether I should just forget and forgive, and I tried.  But the tragedy stays in my consciousness and it often provokes fear.  In my mind, this remains an unfinished business, namely the government's inaction almost indifference in investigating and bringing the perpetrators into the court of justice simply cannot be tolerated.  My conscience still demands honor and justice, and freedom from fear.  I agree with your opinion that basically truth cannot be experienced without justice.  Thank you for writing such a touching article.  Many of us still need to heal from such traumatic event.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>As an Indonesian Chinese woman, I often ask myself whether I should just forget and forgive, and I tried.  But the tragedy stays in my consciousness and it often provokes fear.  In my mind, this remains an unfinished business, namely the government&#8217;s inaction almost indifference in investigating and bringing the perpetrators into the court of justice simply cannot be tolerated.  My conscience still demands honor and justice, and freedom from fear.  I agree with your opinion that basically truth cannot be experienced without justice.  Thank you for writing such a touching article.  Many of us still need to heal from such traumatic event.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Stevanus</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-36</link>
		<dc:creator>Stevanus</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 06:48:16 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-36</guid>
		<description>Kita harus menyadari dosa dan kesalahan yang sudah kita perbuat, dan selayaknya minta pengampunan kepada Tuhan Yesus. Apa yang selamanya dikenang itu akan membuat hati kita sakit. Kita harus bangkit dari kesedihan dan keterpurukan untuk melawan ketidakadilan. Hanya Tuhan-lah yang maha adil..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kita harus menyadari dosa dan kesalahan yang sudah kita perbuat, dan selayaknya minta pengampunan kepada Tuhan Yesus. Apa yang selamanya dikenang itu akan membuat hati kita sakit. Kita harus bangkit dari kesedihan dan keterpurukan untuk melawan ketidakadilan. Hanya Tuhan-lah yang maha adil..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Peaceful Indonesia</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-28</link>
		<dc:creator>Peaceful Indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 23:35:31 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-28</guid>
		<description>Terima kasih Nico atas dukungan hati dan pikiran Anda yang dewasa. Sangat kami hargai. Impunity must be eradicated with channeled inner wisdom.

PeacefulIndonesia.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Nico atas dukungan hati dan pikiran Anda yang dewasa. Sangat kami hargai. Impunity must be eradicated with channeled inner wisdom.</p>
<p>PeacefulIndonesia.com</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nico Krisnanto</title>
		<link>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-26</link>
		<dc:creator>Nico Krisnanto</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 12:54:23 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.peacefulindonesia.com/2008/04/04/air-mata-kami-belum-kering-oleh-mutiara-andalas/#comment-26</guid>
		<description>Dengan sepenuh hati, saya mendukung inisiatif ini. Inilah suatu tragedi yang tidak boleh dibiarkan terlupa, karena memang ada sikap tegas dan jelas untuk melupakannya, bahkan dari pihak aparat yang paling bertanggung-jawab.

Beberapa saat setelah Tragedi Mei 1998 meletus, Jendral Wiranto sudah menghimbau: "Mari kita tinggalkan yang sudah lampau, untuk lebih cerah menetap masa depan!". Suatu himbauan manis yang membalut kepahitan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkannya...

Impunity merintis pengulangan tragedi demi tragedi. Nyatanya terus merebak tragedi Poso, Ambon, dan Munir. Sangat mungkin akan muncul tragedi2 berikut, jika impunity dibiarkan begitu saja.~

nk</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan sepenuh hati, saya mendukung inisiatif ini. Inilah suatu tragedi yang tidak boleh dibiarkan terlupa, karena memang ada sikap tegas dan jelas untuk melupakannya, bahkan dari pihak aparat yang paling bertanggung-jawab.</p>
<p>Beberapa saat setelah Tragedi Mei 1998 meletus, Jendral Wiranto sudah menghimbau: &#8220;Mari kita tinggalkan yang sudah lampau, untuk lebih cerah menetap masa depan!&#8221;. Suatu himbauan manis yang membalut kepahitan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkannya&#8230;</p>
<p>Impunity merintis pengulangan tragedi demi tragedi. Nyatanya terus merebak tragedi Poso, Ambon, dan Munir. Sangat mungkin akan muncul tragedi2 berikut, jika impunity dibiarkan begitu saja.~</p>
<p>nk</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
